Senin, 25 Juni 2012

Mengetahui Perhitungan Gross Tonage, Coefisien Blok dan Coefisie Prismatik Dengan Menggunakan Permodelan Matematika


TUGAS TERSTRUKTUR
KAPAL PERIKANAN

Mengetahui Perhitungan Gross Tonage, Coefisien Blok dan Coefisie Prismatik Dengan Menggunakan Permodelan Matematika

Oleh :
David Kau Banase
NIM. 105080213111008



logoFPIKbaru
 








PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012


1.      PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Kapal merupakan alat transportasi laut. Kapal merupakan kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut, seperti halnya sampan, atau perahu yang lebih kecil. Kapal biasanya cukup besar untuk membawa perahu kecil seperti sekoci. Sedangkan dalam istilah Inggris, dipisahkan antaraship yang lebih besar dan boat yang lebih kecil. Secara kebiasaannya, kapal dapat membawa perahu tetapi perahu tidak dapat membawa kapal. Ukuran sebenarnya dimana sebuah perahu disebut kapal selalu ditetapkan oleh undang-undang dan peraturan atau kebiasaan setempat (Udin, 2010).
Pengertian kapal perikanan menurut UU No.31 Tahun 2004 tentang perikanan Pasal 1 Butir (9). Menyatakan bahwa kapal perikanan adalah kapal, perahu, atau apung lain dipergunakan untik melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan pembudidaya ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian/eksplorasi perikanan. Sedangkan kapal penangkapan adalah kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang dipergunakan untuk menangkap ikan termasuk untuk melakukan survey atau eksploitasi perikanan (UU Perikanan, 2004). Kapal perikanan yang berbendera Indonesia yang melakukan penangkapan ikan diwilayah yurisdiksi negara lain harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan pemerinyah.
Menurut Deptan (1993), Kapal – kapal penangkapan ikan harus mempunyai persyaratan – persyaratan sebagai berikut :
1.      Type Arsitektur Kapal
2.      Jenis Bahan/Material
3.      Ukuran pokok dan koefisien bentuk kapal
4.      Stabilitas kapal
5.      Kekuatan kapal
6.      Tahanan kapal
7.      Konstruksi kapal

 1.2 Tujuan
            Adapun tujuan yang penulis sampaikan dalam pembuatan tugas terstruktur kapal perikanan adalah sebagai berikut :
·         Untuk mengetahui proses perhitungan GT, Cb serta Cp kapal perikanan.
·         Untuk Mengetahui perhitungan Simson I maupun II.

1.3 Rumusan Masalah
            Adapun rumusan masalah yang ada dalam tugas kapal perikanan ini adalah sebagai berikut :
·         Pengaruh Gross Tonage kapal terhadap hasil tangkapan yang tampung.
·         Hubungan antara Cb dan Cp.

 
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Pengertian Kapal
Menurut KEPRES nomor 51 tahun 2002, kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun, yang digerakan dengan tenaga mekanik, tenaga angin, atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah (Ayodhyoa, 1972)
Menurut KEPMEN nomor: KEP. 02/MEN/2002 kapal perikanan adalah kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang digunakan untuk melakukan penangkapan ikan termasuk survei atau eksplorasi kelautan.
Klasifikasi kapal perikanan baik ukuran, bentuk, kecepatan maupun konstruksinya sangat ditentukan oleh peruntukan kapal perikanan tersebut. Demikian pula dengan kapal penangkap, masing-masing memiliki ciri khas, ukuran, bentuk, kecepatan dan perlengkapan yang berbeda (Ayodhyoa, 1972)
Menurut Fyson (1985), Kapal perikanan secara umum terdiri dari: kapal penangkap ikan, kapal pengangkut hasil tangkapan, kapal survei, kapal latih dan kapal pengawas perikanan.
  1. Kapal Penangkap Ikan
Kapal penangkap ikan adalah kapal yang dikonstruksi dan digunakan khusus untuk menangkap ikan sesuai dengan alat penangkap dan teknik penangkapan ikan yang digunakan termasuk menampung, menyimpan dan mengawetkan.
  1. Kapal Pengangkut Hasil Tangkapan
Kapal pengangkut hasil tangkapan adalah kapal yang dikonstruksi secara khusus, dilengkapi dengan palkah khusus yang digunakan untuk menampung, menyimpan, mengawetkan dan mengangkut ikan hasil tangkapan.
  1. Kapal Survei
Kapal survei adalah kapal yang dikonstruksi khusus untuk melakukan kegiatan survei perikanan dan kelautan.
  1. Kapal Latih
Kapal latih adalah kapal yang dikonstruksi khusus untuk pelatihan penangkapan ikan.
  1. Kapal Pengawas Perikanan
Kapal pengawas perikanan adalah kapal yang dikonstruksi khusus untuk kegiatan pengawasan kapal-kapal perikanan.

2.2    Bentuk Kapal Penangkapan Ikan Berdasarkan Alat tangkap
Menurut Umar Tangke (2011), kapal penangkap ikan berdasarkan alat tangkapnya dapat dibedakan menjadi:
  1. Kapal Pukat Hela
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pukat hela yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi pukat, penggantung, tempat peluncur dan batang renang.
  1. Kapal Pukat Cincin
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pukat cincin yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa blok daya, derek tali kerut, sekoci kerja dan tempat peluncur.
  1. Kapal Penggaruk
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap penggaruk yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penggaruk dan batang rentang.
  1. Kapal Jaring Angkat
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring angkat yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi jaring angkat, batang rentang depan dan belakang serta lampu pengumpul ikan.
  1. Kapal Jaring Insang
Kapal pengakap ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring insang yang dilengkapi dengan perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penggulung jaring.
 
  1. Kapal Pemasang Perangkap
Kapal penangkap ikan yang mmengoperasikan alat tangkap ikan dengan perangkap yang dilengkapi perlengkapan penangkapan ikan berupa pangsi penarik tali perangkap.
  1. Kapal Pancing
Kapal penangkap ikan yang dipergunakan untuk mengoperasikan pancing yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan berupa penarik/penggulung tali (line hauler), pengatur tali, pelempar tali, bangku umpan, ban berjalan, bak umpan hidup atau mati dan alat penyemprot air kapal long line kapal pole and line (huhate)
  1. Kapal dengan Pompa
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan pompa penyedot untuk menangkap ikan.
  1. Kapal Serba Guna (Multi Purpose)
Kapal penangkap ikan yang mengoperasikan lebih dari 1 alat penangkapan ikan yang dilengkapi dengan salah satu atau beberapa perlengkapan penangkapan ikan yang sesuai dengan jenis alat penangkapan ikan yang digunakan.

2.3 Bagian-bagian Kapal
Menurut Pasaribu (1995), bagian-bagian kapal yang penting ditunjukkan dalam gambar berikut, gambar ini tidak berbeda banyak dari kapal sungai.
Berdasarkan gambar, bagian-bagian utama kapal terdiri dari: 1: Cerobong; 2: Buritan; 3: Propeller; 4: Kulit kapal; 5: Mesin; 6: Lampu sorot; 7: Haluan; 8: Geladak utama; 9: Bangunan atas (Superstructure) di mana ditempatkan anjungan kapal, kabin untuk awak.
Pada kapal penyeberangan Ro-ro masih dilengkapi dengan pintu rampa yang terletak pada haluan dan buritan kapal.
Secara umum pada prinsipnya kapal penyeberangan dan kapal perairan pedalaman dengan yang kapal yang digunakan dilaut memiliki karakteristik yang sama kecuali pada bagian tertentu di mana kapal penyeberangan dilengkapi dengan sistem pintu pendarat (ramp door) untuk naik turun penumpang dan kendaraan serta pola sandar pada dermaga yang menggunakan dermaga khusus untuk kapal penyeberangan.

2.4 Ukuran-ukuran Pokok Kapal
1.    Panjang Kapal
Menurut Daniel (2010), panjang Kapal (Length) pada umumnya terdiri dari LOA (Length Over All), LWL (Length on designes water Line), dan LBP (Length Beetwen Perpendicular).
a.      LOA (Length Over All)
Secara definisi LOA adalah panjang keseluruhan kapal yang diukur dari ujung haluan kapal terdepan sampai pada ujung belakang buritan kapal. Merupakan ukuran utama yang diperlukan dalam kaitannya dengan panjang dermaga, muatan, semakin panjang LOA semakin besar kapal berarti semakin besar daya angkut kapal tersebut.
b.      LWL (Length Water Line)
LWL adalah panjang kapal yang diukur dari perpotongan garis air pada haluan kapal sampai buritan kapal pada garis air, atau dengan kata lain adalah panjang bagian kapal yang berada di bawah garis air.
c.       LBP (Length Between Perpendicular)
LBP adalah panjang antara 2 (dua) garis tegak kapal yang diukur dari tinggi haluan kapal pada garis air sampai tinggi kemudi.

 2.    Lebar
Menurut Daniel (2010), lebar dan kedalaman kapal merupakan ukuran utama lainnya dalam menentukan ukuran-ukuran kapal. Ada beberapa ukuran lebar yang biasa digunakan dalam pengukuran dimensi lebar kapal yaitu Breadth Extreme/maximum breadth dan Breadth Moulded.
a.      Breadth Extreme
Lebar kapal merupakan besaran yang diukur dari kulit kapal bagian terluar (starboard=sisi kiri) sampai kulit kapal bagian luar sisi lainnya (port=sisi kanan) termasuk jika ada bagian geladak yang menonjol keluar melampaui lambung kapal.
b.      Breadth Moulded
Lebar menurut mal ialah lebar yang diukur dari bagian luar gading-gading pada satu sisi ke gading-gading sisi yang lain.
3.    Dimensi Vertikal
a.      Sarat air (d) atau (T)
Sarat air atau dikenal sebagai sebagai draught adalah jarak tegak antara lunas (keel) sampai garis air muat, maksimumnya ditetapkan sebagai batas lambung timbul (freeboard). Sarat air biasa disimbolkan dengan huruf ”d” atau “T”. Sarat kapal sangat ditentukan beberapa faktor seperti model lambung kapal, termasuk di dalamnya dimensi kapal rancangan itu sendiri, muatan (payload), berat konstruksi, suhu air serta viskositas air di mana kapal dioperasikan.
b.      Dalam (depth) / Tinggi geladak
Depth moulded (dalam) menurut mal adalah kedalaman atau tinggi yang diukur dari bagian atas lunas sampai bagian bawah geladak yang terendah di tengah-tengah panjang kapal (LBP).
c.       Lambung bebas minimum (f)
Lambung bebas minimum (Min. freeboard), ialah jarak vertikal antara garis geladak bagian atas sampai dengan lingkaran Plimsol Mark (garis muat). Semakin besar muatan kapal, benaman kapal yang tercelup ke dalam air semakin dalam sampai batas aman yang ditandai dengan Plimsol Mark. Sedang lambung bebas (freeboard) adalah jarak vertikal antara garis geladak bagian atas sampai garis air.

2.5 Perbandingan Ukuran Utama Kapal
Menurut Soemartojo (2008), perbandingan ukuran utama kapal menentukan karakteristik sebuah rancangan kapal. Secara terperinci rasio ukuran utama dapat kita lihat sebagai berikut:
         B/T :   Ratio ini menunjukkan karakteristik stabilitas kapal
B/T yang rendah akan mengurangi stabilitas kapal, sebaliknya B/T yang tinggi akan membuat stabilitas kapal menjadi lebih baik.
        L/B :   Ratio yang menunjukkan manuvering kapal
L/B yang kecil akan memberikan kemampuan stabilitas yang lebih baik akan tetapi dapat juga menambah tekanan kapal. Sedangkan L/B yang besar mengurangi kemampuan olah gerak (manuver) kapal dan mengurangi pula stabilitas kapal
         L/D : Ratio yang menunjukkan kekuatan konstruksi kapal, khususnya kekuatan memanjang.
L/D yang besar akan mengurangi kekuatan memanjang kapal, sebaliknya L/D yang kecil akan menambah kekuatan memanjang kapal.
        D/T :  Ratio yang menunjukkan lambung timbul kapal, terutama berhubungan dengan daya apung cadangani

2.6 Ukuran Berat Kapal
Menurut Indra dan Sofi’i (2008), untuk menyatakan ukuran suatu kapal dalam sebuah kapal rancangan, dapat ditentukan berdasarkan spesifikasi muatan kapal. Spesifikasi muatan kapal tersebut dapat ditinjau sebagai berikut:
         Ukuran menurut isi kapal.
         Atau ukuran menurut bobot atau berat kapal.
         Daya mesin kapal.
Bagi usaha penyeberangan, umumnya dalam pemilihan kapal akan mengambil kapal yang memiliki ruangan yang dapat menampung kendaraan yang akan diseberangkan sebanyak mungkin, bahkan ruangan yang lebih dari satu dek (geladak), agar daya muat kendaraannya besar. Sedang untuk angkutan sungai dan danau yang dipentingkan adalah muatan penumpang atau barang yang bisa diangkut. Untuk mengetahui daya muat atau ruang yang luas adalah ukuran menurut isi kapal, tepatnya net registered tonnage (NRT).
1.    Ukuran Menurut Isi
Untuk mengetahui tonnage isi kapal, diukur ruangan dalam kapal dengan alasan bahwa ruangan yang tertutup dan digunakan untuk pemuatan barang (di bawah atau di atas geladak) adalah faktor penting penentuan daya pendapatan (earning power) suatu kapal. Oleh karenanya ruangan tersebut dijadikan sebagai dasar perhitungan untuk pengukuran dan sebagai batas perhitungan ukuran, diambil tonnage dek (geladak ukur), yaitu geladak teratas untuk kapal yang memiliki kurang dari 3 dek lengkap (continous deck) atau geladak lengkap kedua dari bawah bagi kapal yang memiliki deck lengkap lebih dari 2 buah geladak lengkap.

Ada 2 macam ukuran menurut isi kapal yaitu Gross Tonage (GR) dan Net Tonage (NT)
a.      Gross Tonnage (GT)
Gross Tonnage atau dulu disebut Gross Register Tonnage atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai tonase kotor yaitu jumlah seluruh ruangan di bawah geladak ukur (Tonnage deck) dan ruangan-ruangan tertutup yang ada di atasnya dan dikurangi dengan ruangan-ruangan tertentu, yakni: ruangan cahaya dan angin, rumah kemudi (Wheelhouse), dapur, tangga, WC, hatchways di atas ½ % dari gross tonnage dan ruangan-ruangan yang menurut peraturan pengukuran terbuka (seperti open shelter deck). GRT ini untuk mendapatkan kapal-kapal (ship registration), surat ukur kapal. Arti ton dalam hal ini diartikan sebagai isi atau registered ton. Satu (1) ton sama dengan 100 cubicfeet atau sama dengan 2,83 M3 (1 M3 = 35,3165 cf).
Badan yang melakukan pendaftaran kapal ini (badan swasta) disebut classification society, yang akan menerbitkan sertifikat klasifikasi. Badan ini mengikuti pertumbuhan kapal, mulai dari pembuatan sampai dengan pemusnahan (from the cradle to the grave). Beberapa badan klasifikasi di dunia:
         Lloyd’s Register of shiping (L_R) di London.
         American Bureau of shipping (A-B) di New York.
         Bureau Veritas (B-V) di Paris.
         Nopske Veritas (N-V) di Oslo.
         Germanische Lloyd (G-L) di Berlin.
         Registro Italion (R-I) di Roma.
         Nippon Kaiji Kyokai (N-K) di Tokyo.
         Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) di Jakarta.
·         Perhitungan
Perhitungan tonase kotor dijelaskan di dalam Regulation 3 dari Annex 1 dalam The International Convention on Tonnage Measurement of Ships, 1969. Tergantung dari dua variabel:
V adalah total volume dalam meter kubik (m³),
K1 adalah faktor pengali berdasarkan volume kapal.
Faktor pengali K mempengaruhi persentase volume kapal yang dinyatakan sebagai tonase kotor. Untuk kapal kecil nilai K lebih kecil, sedang untuk kapal besar nilai K lebih besar. Nilai K bervariasi pada rentang antara 0.22 sampai 0.32 dan dihitung dengan rumus:

Setelah V dan K diketahui, tonase kotor dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

b.      Net Tonnage (NT)
NT atau sering juga disebut Regitered ton atau Net Tonnage, diperoleh dari pengurangan Gross Tonnase dengan isi ruangan-ruangan tempat kediaman awak kapal, (kamar nakhoda dan perwira-perwira, ruangan navigasi, tempat alat-alat serang (boatswain) tempat air ballast dan air minum, tempat pompa-pompa, mesin Bantu (donkey) dan ketel (boiler) tempat penyimpanan layar (tidak boleh lebih dari 21/2 % tempat mesin kapal). Berarti bahwa net tonnage adalah jumlah seluruh isi ruangan kapal yang tersedia untuk keperluan pengangkutan barang muatan atau barang dagangan.
·         Perhitungan
a.       Untuk kapal dengan penumpang 12 orang atau kurang:
Dasar perhitungan tonase bersih berdasarkan ketentuan tergantung kepada variabel berikut:
        V adalah total volume cargo dalam meter kubik (m³).
        D adalah jarak bagian atas lunas sampai bagian tepi bawah geladak dalam meter.
        d, adalah draft dalam meter.
Langkah pertama dalam menghitung NT adalah menghitung nilai K2, yang tergantung kepada Vc. Yang diperoleh dengan menggunakan rumus berikut:

 Selanjutnya dengan menggunakan ketiga nilai tersebut perhitungan NT diperoleh dari rumus:

`Di mana faktor (4d/3D)2 tidak boleh melebihi 1, dan nilai Vc × K2 × (4d/3D)2 tidak melebihi 0.25 GT, dan nilai akhir NT tidak boleh diterima bila hasilnya kurang dari 0.30 GT.
b.    Untuk kapal dengan penumpang 13 orang atau lebih:
Dalam menghitung NT untuk kapal-kapal yang diizinkan mengangkut 13 atau lebih penumpang digunakan tambahan 3 variabel lain:
        GT adalah Tonase kotor kapal.
        N1 adalah jumlah penumpang di dalam kabin dengan tidak lebih dari 8 tempat.
        N2 adalah jumlah penumpang lainnya,
Pertama sekali dihitung pengali K3 atas dasar GT dengan menggunakan rumus berikut:

Selanjutnya dapat dihitung tonase bersih:

Di mana faktor (4d/3D)2 tidak boleh melebihi 1, sehingga Vc × K2 × (4d/3D)2 tidak akan lebih dari 0.25 GT, dan nilai akhir dari NT tidak boleh diterima kalau kurang dari 0.30 GT.
2.    Ukuran Menurut Bobot
Ukuran menurut bobot atau berat kapal, digunakan satuan longton ( 1 longton = 224 pound / lbs = 1.016 kg) atau satuan short ton (1 short ton = 907, 18 Kg), namun kalau tidak dinyatakan lain maka ton berat adalah longton. Ada 2 macam ukuran ton berat, yaitu:
  1. Tonase bobot mati (Inggris: Dead Weight Tonnage disingkat DWT) adalah jumlah bobot/berat yang dapat ditampung oleh kapal untuk membuat kapal terbenam sampai batas yang diizinkan dinyatakan dalam long ton atau metrik ton. Batas maksimum yang diizinkan ditandai dengan plimsol mark pada lambung kapal. Tonase bobot mati didefinisikan sebagai perjumlahan dari bobot/berat berikut ini: muatan barang, bahan bakar, air tawar, air ballast, barang konsumsi, penumpang, awak kapal.
  2. Berat benaman atau disebut juga sebagai displacement tonnage adalah bobot yang sesungguhnya dari keseluruhan kapal, merupakan jumlah dari DWT dan LWT. Kalau tanpa muatan dan BBM, disebut LIGHT DISPLACEMENT, yang terdiri dari berat baja kapal, berat peralatan dan mesin penggerak beserta instalasi pembantu. Kalau termasuk muatan, BBM dan berat kapal sampai pada garis muat yang terdalam (to her deepes mark) disebut HEAVY DISPLACEMENT.
 2.7 Koefisien Bentuk Kapal
Menurut Ayodhyoa (1972), koefisien kapal merupakan suatu besaran yang merupakan fungsi dari dimensi utama kapal (main dimension). Koefisien-koefisien yang diperoleh akan digunakan dalam perhitungan rancangan kapal. Jenis koefisien kapal adalah sebagai berikut:

1.    Koefisien Blok (Cb)
Koefisien bentuk dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

Dimana :
V = Volume Karene
L = Panjang Garis Air
B = Lebar Kapal
T = Sarat Kapal
Koefisien bentuk ini berfungsi untuk mengetahui bentuk lambung dari sebuah kapal rancangan yang mana semakin besar nilai sebuah koefisien bentuk, maka berdampak pada bentuk lambung yang gemuk. Sebaliknya pun demikian. Dalam Buku Teori Bangunan Kapal diberikan nilai batasan koefisien bentuk yaitu: (0,20 – 0,84). Untuk rancangan kapal–kapal penyeberangan yang ada sekarang pada umumnya menggunakan Cb yang besar. Hal ini bertujuan untuk mencapai sebuah kapasitas ruang muat yang lebih besar meski tidak sedikit yang menggunakan nilai Cb yang relatif kecil.

2.    Koefisien Water Line (CWL)
Koefisien Water line (CW) - (range: 0,70 – 0,90). adalah luas bagian kapal yang berada digaris air dibagi panjang pada garis air dikali lebar kapal. Nilai yang kecil menunjukkan kapal yang streamline seperti pada kapal layar atau kapal penumpang sedangan nilai yang besar menunjukkan kapal kecepatan rendah yang digunakan pada kapal barang atau kapal tangker.

 Dimana:
Aw  = Luas bidang garis air.
Lpp = Panjang garis air.
B     = Lebar kapal (Lebar Garis Air).

3.    Koefisien Gading Besar (Midship)

Koefisien Midship (CM) - (range: 0,50 – 0,95) adalah potongan melintang pada bagian tengah kapal, atau bagian terbesar yang dibagi dengan lebar (beam) x draft. Yang merupakan ratio antara bagian yang berada dibawah air dengan luas pesegi antara lebar dengan draft. Nilai yang kecil menunjukkan kapal yang streamline yang biasanya ditemukan pada kapal layar dan nilai yang besar biasanya pada kapal barang atau tangker.

Dimana:
            B   = Lebar Kapal
            T    =  Tinggin Kapal
            Am = Luas Penanmpang gading besar
4.    Koefisien Prismatik
Koefisien prismatik adalah volume dibagi dengan panjang pada garis air dikali luas potongan dibawah garis air. Angka yang rendah menunjukkan bagian tengah kapal yang penuh sedang ujung-ujung yang lancip yang biasa digunakan pada kapal kecepatan tinggi sedangkan angka yang besar digunakan pada kapal kecepatan rendah.

Dimana:
V    = Isi Karene.
Am = Luas penampang gading besar (luas midship).
Lpp = Panjang antara garis tegak haluan dan buritan

2.8 Luas Bidang Lengkung
Menurut Ayodhyoa (1983), perhitungan-perhitungan kapal pada umumnya didasarkan pada bidang-bidang lengkung kapal yang dibatasi oleh :
a.    Sebuah garis datar sebagai basis
b.    Dua buah ordinat yang ada kala berharga nol
c.    Sebuah garis lengkung atau kromme
Dalam penghitungan bidang lengkung ini menurut Santoso, dkk (1983), dapat menggunakan rumus-rumus pendekatan diantaranya adalah rumus TRAPESIUM dan SIMPSON
1. Rumus Trapesium

             Luas bidang ABB1A1 dapat dihitung dengan membagi bidang itu menjadi lima bagian. Sehingga perhitungannya adalah :
Luas I                        = h (½ y0 + ½ y1)
Luas II          = h (½ y1 + ½ y2)
Luas III         = h (½ y2 + ½ y3)
Luas IV         = h (½ y3 + ½ y4)
Luas V          = h (½ y4 + ½ y5)
 Sehingga luas ABB1A1 = h (½ y0 + 1 y1 +1 y2 + 1 y3 + 1 y4 + ½ y5)
2. Cara Simpson I
 Bidang lengkung ABCC1A1    terdiri dari Trapesium ACC1A1 dan luas tembereng ABCF. Sehingga kita akan mendapat rumus :
                      I           = ⅓ h (y0 + 4 y1 + y2)
                      II         = ⅓ h                      (y2 + 4 y3 + y4)
                      III        = ⅓h                                             (y4 + 4 y5 + y6)
                                                                                                                            +
Luas SIMPSON I       = ⅓ h (y0 + 4 y1 + 2 y2 + 4 y3 + 2 y4 + 4 y5 + y6)

2.9 Mesin Penggerak Utama Kapal Perikanan
Mesin penggerak utama harus dalam kondisi yang prima apabila kapal perikanan akan memulai perjalanannya. Konstruksi mesin penggerak kapal seperti pada gambar dibawah ini.
(Gambar. Mesin Utama Penggerak Kapal)             (Sumber : Google image, 2012)

Motor penggerak utama kapal perikanan yang paling umum digunakan saat ini adalah motor bensin dan motor diesel. Jadi mesin penggerak utama adalah mesin yang langsung atau tidak langsung dipakai untuk menggerakan propeler atau baling-baling kapal. Orang yang akan mengoperasikan, harus mampu mengenal bagian-bagian dari mesin tersebut (Fiqrin, 2010).

 
3. DATA LAPANG

3.1 Data Kapal
            Adapun data kapal yang digunakan oleh penulis dalam mebuat tugas terstruktur kapal perikanan adalah sebagai berikut :
·           Nama Kapal                          : KM. Sekar
·           Tanda Selar                           : GT. 15 No. 561/NP
·           Jenis Kapal                            : Kapal Penangkap Ikan
·           Bahan Kasko                        : Kayu
·           Gross Tonage (GT)               : 15 GT
·           Muatan Bersih (NT)              : 5 NT
·           Displacemen Kapal (Δ)         : 7 GT
·           Isi Palkah                              : 3 Ton
·           Ukuran Palkah                      : 150 x 80 x 97 cm
·           Jumlah Palkah                       : 2 Buah
·           Lokasi                                   : PPN  Prigi
·           Nama Pemilik                       : H  Hasan
·           Status Kapal                         : Milik Sendiri
·           Jumlah ABK                         : 7 Orang
·           Tangki Bahan Bakar             : 220 Liter
·           Jumlah Geladak                    : 2 Buah
·           Alat Tangkap                        : Payang
3.2 Ukuran Utama Kapal
·           Panjang Keseluruhan Kapal (LOA)              : 27 m
·           Panjang Garis Tegak Kapal (LBP)               : 8,15 m
·           Panjang Garis Air (LWL)                             : 10,56 m
·           Lebar Kapal Maksimum (B Max)                 : 6,5 m
·           Lebar Garis Geladak Kapal (Bmdl)              : 2,15 m
·           H/D (Tinggi Kapal)                                       : 3, 56 m
·           Tinggi Geladak                                             : 1,90 m
·           Sarat Kapal (d)                                             : 1,6 m
3.3 Data Alat Tangkap
Adapun data alat tangkap Payang yang diperoleh penulis dari data analisis/asumsi pribadi yang dituangkan dalam tugas terstruktur ini yaitu adalah sebagai berikut :
·         Panjang Alat Tangkap             : 200 m
·         Tinggi Alat Tangkap               : 25 m
a. Jaring Pada Sayap
·         Panjang (Length)                     : 200 m
·         Lebar                                       : 25 m
·         Bahan                                      : Multifilament
·         Diameter                                 : benang D6 Ddan D9
b. Badan Jaring
·         Diameter Benang                      : benang D6 dan D9
·         Panjang                                    : 50 m
·         Lebar                                       : 25 m
c. Sayap Payang
·         Bahan                                      : Nylon no. 6
·         Diameter                                 : 20 mm
·         Panjang                                   : 50 m
d. Mulut Payang
·         Panjang (Length)                      : 50 m
·         Diameter                                  : 20 mm
·         Mesh Size                                : 1,4 Inch
·         Bahan                                      : Nylon no. 6
e. Kantong
·         Panjang (Length)                      : 10 m
·         Kedalaman (Depth)                  : 5 m
·         Mesh Size                                : 0.5 Inch
·         Bahan                                      : Rafia


f.  Pelampung (Float)
·         Panjang (Length)                    : 40 mm
·         Bahan                                    : Gabus
·         Bentuk                                   : Ellips
·         Diameter Lubang                    : 60 mm
·         Diameter (Tebal)                     : 90 mm
·         Jumlah                                     : 50 buah
g. Pemberat (Weights)
·         Bahan                                      : Batu
·         Berat                                       : 2 kg
·         Jarak                                        : 8 m
·         Diameter                                 : 69 mm
·         Jumlah                                     : 24 buah
4. PROSES PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan Koefisien Bentuk Kapal
1. Perhitungan Koefisien Blok (Cb)
C_b = \frac {V}{L_{pp} \cdot B \cdot T}
Cb = 0,59
Dimana :
V         = displacement volume (m3)
L          = panjang kapal
B         = lebar kapal
T          = sarat air kapal
2. Perhitungan Koefisien Water Line (CWL)
C_w = \frac {A_w}{L_{pp} \cdot B}
           
            Diasumsikan Nilai luas bidang garis air (Aw) adalah 30 maka:
   Cw =
   Cw = 0.73
Dimana:
Aw  = Luas bidang garis air.
Lpp = Panjang garis air.
B     = Lebar kapal (Lebar Garis Air).
3. Perhitungan Koefisien Gading Besar (Midship) (Cm)
C_m = \frac {A_m}{B \cdot T}

            Diasumsikan nilai Luas Penampang Gading Besar (Am) adalah 25 maka:

            Cm =

            Cm = 0,76

Dimana:
            B   = Lebar Kapal
            T    =  Tinggi Kapal
            Am = Luas Penanmpang gading besar

4. Perhitungan Koefisien Prismatik (Cp)
C_p = \frac {V}{L_{pp} \cdot A_m}

            Cp =

            Cp = 0.16
Dimana:
V    = Isi Karene.
Am = Luas penampang gading besar (luas midship).
Lpp = Panjang antara garis tegak haluan dan buritan

4.2 Perhitungan Grose Tonage (GT)
           
 K_1 = 0.2 + 0.02 \cdot log_{10}(V)

GT = K_1 \cdot V
            K1   = 0,2 + 0,02 . log­10 (21,5)
                   = 0,63
            GT  = 0,63 x 21,5
                   = 13,55 Ton


4.3 Perhitungan Luas Lengkung Kapal
Untuk mengetahui ruang muat kapal maka kita harus mengetahui luasan dari badan kapal yang dapat dihitung dengan mengggunakan Metode Simpson.
1.  Luasan 1 = 0                      karena y = 0
2.  Luasan 2
WL 0 m Panjang = 7m, h = 1,2
Tabel 4. Luasan 2
No.
Ordinat (m)
FL
Ordinat x FL
0
0
1
0
1
0,6
4
2,4
2
0,7
2
1,4
3
0,8
4
3,2
4
0,7
2
1,4
5
0,5
4
2
6
0
1
0
Total ( ∑ )
10,4

Luas WPA   = k x h x ∑ x 2
                     = 1/3 x 1,2 x 10,4 x 2
                     = 8,49 m2           
3. Luasan 3
WL 0,3 m Panjang = 10 m h = 1,7 m
Tabel 5. Luasan 3
No.
Ordinat (m)
FL
Ordinat x FL
0
0
1
0
1
0,7
4
2,8
2
1
2
2
3
1,1
4
4,4
4
0,9
2
1,8
5
0,6
4
2,4
6
0
1
0
Total ( ∑ )
13,4

Luas WPA   = k x h x ∑ x 2
                     = 1/3 x 1,7 x 13,4 x 2
                     = 15,5 m2
4. Luasan 4     
WL 0,6 m Panjang = 13,5 m h = 2,2 m
Tabel 6. Luasan 4
No.
Ordinat (m)
FL
Ordinat x FL
0
0
1
0
1
1,3
4
5,2
2
2
2
4
3
2,2
4
8,8
4
1,6
2
3,2
5
1
4
4
6
0
1
0
Total ( ∑ )
25,2
Luas WPA    = k x h x ∑ x 2
                     = 1/3 x 2,2 x 25,2 x 2
                     = 36.96 m2
5. Luasan 5  
WL 0,9 m Panjang = 10 m h = 2,3 m
Tabel 7. Luasan 5
No.
Ordinat (m)
FL
Ordinat x FL
0
0
1
0
1
2
4
8
2
2.5
2
5
3
2,3
4
9.2
4
2,1
2
4,2
5
0,8
4
3,2
6
0
1
0
Total ( ∑ )
29,6
Luas WPA   = k x h x ∑ x 2
                     = 1/3 x 2.3 x 29,6 x 2
                     = 45,38 m2         
h = jarak antara WL satu dengan yang lain = 0,25
Tabel 8. Jarak Antara WL
No.
WPA (m)
FL
WPA x FL
0
0
1
0
0,25
8,49
4
33,96
0,5
15,5
2
31
0,75
36.96
4
147,84
1
45,38
1
45,38
Total ( ∑ )
258,18

Simpson I
            Volume Displacement VD () = 1/3 x h x å hasil
                                                              = 1/3 x 0,25 x 258,18 m2
                                                              = 21,5 m3

            Displacement (∆)

             D (∆) = VD x g air laut
                      = 21,5 m3 x 1,025 Ton/m3
                      = 22,037 Ton
         Dimana :
V         = displacement volume (m3)
          = displacement berat (ton)
             γ         = berat jenis air laut (1,025)

4.4 Pendekatan Rumus Perhitungan Motor
1. Volume Ruang Bakar (dc)
    

      = 0,785 x 62 x 2,5 x 6

      = 423,9 cm3

Dimana :
                 Vc = Volume Ruang Bakar
                 D   = Diameter Silinder
                 c    = Celah Ruang Bakar
                 i     = Jumlah Silinder

2. Volume Langkah Torak (cc)

              = 0,785 x 62  x 11,5 x 6
              = 1949,9 cc
Dimana :
                 Vs  = Volume Langkah Torak (cc)
                 D    = Diameter Silinder (cm)
                 S     = Langkah Torak (cm)
                  i     = Jumlah Silinder

3. Perbandingan Kompresi

     =  1 +  
   =  1 + 4,6
     =  5,6
           
            Dimana :
                        E   = Perbandingan Kompresi
                        Vs = Volume Langkah Torak (cc)
                        Vc = Volume Ruang Bakar (dc)


4. Daya Motor (NE)
1. Daya Motor menggunakan Turbo charger

             =
           = 1971,6 HP

2. Daya Motor Tanpa Turbo Charger

 =
           = 1408,3 HP

            Dimana :
                        D  = Diameter Silinder (cm)
                        S   = Langkah Torak (cm)
                        n   = Putaran Mesin (Rpm)
                        i    = Jumlah Silinder
                        Pc = Tekanan Efektif Rata-rata (kg/cm2)


5. Torsi Motor (T)
           

                = 
             =  44,1 Kg/cm
            Dimana :
                        T    = Torsi Motor (Kg/cm)
                        Hp = Daya Mesin
                        n    = Putaran Mesin (Rpm)

6. Perhitungan Pemakaian Bahan Bakar dan Pelumas
1. Bahan Bakar :
= 0,2 x HP
= 0,2 x 80
= 16 Liter
            BBM   = 1 x t x BBB/jam
                        = 1 x 24 x 16  
                        = 384  liter
2. Pelumas
 = 0,02 x HP
                         = 0,02 x 80
                         = 1,6 Liter
          Pelumas  = 1 x t x pelumas/jam
                         = 1 x 24 x 1,6 liter
                         = 38,4 liter
 
5. PENUTUP

5. Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang dapat disimpulkan dari tugas terstruktur kapal perikanan ini adalah sebagai berikut :
·       Mesin yang digunakan oleh KM. Sekar adalah mesin darat dan merk mesinnya adalah Mitsubishi
·       Hasil yang didapat dari perhitungan GT : 13.55, Cb : 0.59 dan Cp : 0.16.
·      Daya mesin yang digunakan oleh KM. Sekar adalah sebesar 80 PK
·      Torsi motor dari KM. Sekar berdasarkan perhitungan dengan menggunakan pendekatan torsi motor (T) adalah sebesar 44,1 kg/cm.
·      Nilai kecepatan kapal tidak dapat diartikan secara parsial dari nilai nominal kecepatannya, atau dengan kata lain dapat dikatakan memiliki kecepatan yang rendah atau tinggi dari nilai itu saja tetapi harus dibandingkan dengan ukuran kapal dalam hal ini panjangnya. Nilai yang mengakategorikan kapal memiliki kecepatan rendah atau tinggi dengan istilah speedlengthratio (SLR).

 
DAFTAR PUSTAKA

Ayodhyoa. 1972. a. Fisheries I. Asia Kyokai. Bagian Fishing Gear and Fishing Boat. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor. 110 Hal.
Ayodhyoa, A.U., B. P. Pasaribu, I. N. Arnaya. 1983. Desain Umum Kapal Gillnet, Purse Seine, Pool and Line, Long Line, Dan Payang. Kerjasama Direktorat Jenderal Perikanan dan Kelautan.
Daniel 2010. Kapal. http//id.wikipedia.org/wiki/kapal.html. diakses pada tanggal 25 November  2011 pukul 18.00 WIB.
DEPTAN (Departemen Pertanian) 1993. Spesifikasi Teknis Kapal dan Alat penangkapan Ikan Laut dan Perairan Umum. Direktorat Jendral Perikanan Departemen Pertanian. Jakarta.
Fiqrin 2010. Mesin Penggerak Utama Kapal. http://www.kapal ikan.com. diakses pada tanggal 25 November 2011 pukul 18.00 WIB
Fyson, G. 1985. Design Of Small Vessel. FAO Of The United Nations. Rome. Italia. 305 P
Ferdinand et.,al (2008). Kajian Konstruksi Teknis dan Stabilitas Kapal Ikan Pancing Tuna di Motabang Kecamatan Lokak Kabupaten Bolaang Mongondow. Dewan Riset Daerah Provinsi Sulawesi Utara.
Indra dan Sofi’I (2008). Teknik Konstruksi Kapal Baja. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Jakarta.
Pasaribu. B. P., Panjaitan, J. P, Goal, G. L. 1995. Studi Penampilan Stabilitas Kapal Penangkap Ikan Untuk Perikanan Laut Dalam di Pantai Barat Sumatera. Laporan Akhir Penelitian. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hal 66.
Purnomo, 1988. Kapal Perikanan dan Mesin Perkapalan. Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. Jakarta.
Putra, 2011. Gross Tonage Sebagai Istilah Ukuran Kapal.  http://www.ukuran kapal.com.  diakses pada tanggal 25 November 2011 pukul 18.00 WIB
Santoso, 1983. Teori Bangunan Kapal. Depdikbud. Jakarta.
Subani, W. dan H. R. Barus, 1988. Proses Pembakaran Motor Diesel. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Penelitian. Jakarta.
Supardi Ardidja. 1995. Konstruksi Kapal Perikanan. Rineka Cipta; Jakarta
Soemartojo (2008), Teori Bangunan Kapal. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Jurusan Teknik Sistem Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan; Surabaya.
Udin 2010. Syarat Umum Mesin Kapal Perikanan.  http://www.Kapal Perikanan.com.  diakses pada tanggal 25 November 2011, pukul 18.00 WIB
Umar Tangke 2010. Petunjuk Pelaksanaan Prosedur Pengukuran dan Pengujian Kelayakan Kapal Perikanan. Direktorat Kapal Perikanan dan Alat Penangkapan Ikan. Ditjen Perikanan Tangkap. Jakarta
Undang – Undang Republik Indonesis Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 1 butir (9).
Vistor 2010. Sistem Pendingin Kapal. diakses pada tanggal 25 November 2011 2011 pukul 18.00 WIB
Yandian 2010. Sistem Pelumasan dan Sistem Starter Mesin . Diakses pada tanggal 25 November 2011, pukul 18.00 WIB.





           









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar